PROFILE ARSITEK
Ir. Acmad Noe’man ,IAI
Ir.
Achmad Noe’man, IAI mendedikasikan ilmu dan hidupnya untuk mendesain masjid di
Indonesia dan mancanegara. Ialah yang mempelopori bangunan masjid
tanpa kubah, salah satunya Masjid Salman, yang terletak di kampus Institut
Teknologi Bandung (ITB). Selain masjid Salman di ITB, karyanya juga sampai ke
luar negeri, yaitu Masjid Indonesia di Sarajevo, Bosnia dan Masjid Lambung
Mangkurat di Banjarmasin. Ia juga merupakan salah satu pendiri Ikatan
Arsitek Indonesia.
Lahir
di Garut tahun 1924, anak dari seorang pendiri Muhammadiyah Garut ini juga
turut andil dalam pembangunan sarana pendidikan seperti sekolah, asrama hingga
masjid. Disinilah ia mulai tertarik pada bidang arsitektur.
Ditarik lebih jauh, ketertarikan Noe’man juga dipengaruhi ayahnya dalam
membangun infrastruktur pendidikan di lingkungan Muhammadiyah.
Sempat
mengenyam pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Budi Priyayi
Ciledug, Garut, beliau kemudian berlanjut ke jenjang Meer Uitgebreid Lager
Onderweijs (MULO) yang sempat ditutup, sehingga mengharuskan beliau untuk
pindah ke MULO Yogyakarta dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah, Yogyakarta.
Ø
Konsep- konsep Perancangan Desain Ir. Achmad
Noeman, IAI :
Konsep perancangan
terinspirasi dari kitab suci yaitu Al-Quran surat Al-Baqarah ayat ke 170, yang
intinya apabila Allah menurunkan sesuatu yang baru, manusia tidak langsung
mengambilnya, tetapi manusia cenderung ikut ajaran nenek moyangnya. Kemudian,
beliau juga menganut kepercayaan bahwa ketika beribadah shalat di masjid agar
tidak terputus shaf atau barisannya. Acuan-acuan tersebut diinterpretasikan ke
dalam desain yaitu konsep bangunan yang ekstrim tanpa kolom di tengah ruang.
Selain itu, dengan desain yang modern tersebut muncul pula pemikiran untuk
tidak membuat kubah pada masjid. Menurut beliau, tidak ada ketentuan yang
disebutkan bahwa sebuah masjid harus mempunyai kubah.
Berkapasitas sekitar 1.000 orang,
Masjid Salman ITB tercatat sebagai masjid pertama di
Segar dan asri, itulah kesan yang
tercipta saat itu. Masjid yang desain arsitekturnya ber atap datar ini yang
-dahulu- terkenal akan keindahan arsitektur bangunannya masih berdiri kokoh,
menjadi simbol arsitektur kontemporer yang khas dari kota Bandung ini Bangunan masjid ini layak disebut sebagai
satu tonggak arsitektur masjid paling penting bagi pembaruan bangunan
masjid-masjid di Indonesia. Tonggak itu dapat dilihat pada upaya pembebasan
diri dari tradisi dengan ditinggalkannya (hampir) secara total penggunaan
idiom-idiom klasik seperti atap tumpang/tajuk pada masjid-tradisional atau
kubah yang sering dianggap sebagai idiom universal dari masjid.
2)
Masjid At- Tin
Masjid Agung At-Tin dirancang oleh pasangan arsitek anak dan Ayah yakni Fauzan Noe’man dan Ahmad Noe’man. Rancangan yang sangat unik dengan perpaduan berbagai seni bina bangunan masjid didunia dan Nusantara. Hasilnya adalah sebuah bangunan masjid megah modern yang begitu indah. Struktur utama bangunan Masjid Agung At-Tin berupa kubah tunggal berukuran raksasa di atap masjid lengkap dengan empat menara tinggi di empat penjurunya ditambah dengan satu menara tunggal yang lebih tinggi terpisah dari bangunan utama. Sentuhan ciri khas arsitektur Indonesia dicirikan dengan atap berbentuk limas atau joglo yang dimunculkan pada bentuk ornamen di seluruh dinding masjid. Bentuk yang sama juga terdapat pada bagian dalam masjid yang menjadi ornamen utama pada sisi kiblat masjid ini. Hanya saja warna ornamen ini dimodifikasi ke dalam warna yang lebih gelap menggunakan lempengan-lempengan keramik,mozaik, dan kaligrafi. Interior masjid juga dilengkapi dengan lampu gantung tunggal dalam ukuran besar yang menggantung di bawah kubah utama. Lampu gantung dirancang menjuntai berjejer di bawah kubah utama. Kubah dilengkapi dengan celah cahaya matahari, serangkaian lempengan logam yang menggantung dalam susunan yang rumit diletakan dibawah kubah utama sehingga menghasilkan bentuk yang unik.
Ø
Karya- karya Desain Arsitektur Ir. Achmad
Noe’man, IAI :
Pada tahun 1960 sebelum Masjid
Salman ITB dibangun, mahasiswa ITB melaksanakan kegiatan ibadah berjamaah
seperti sholat Jumat di gedung Aula Barat ITB. Kemudian pada tahun 1964, Kasab
Jendral A.H. Nasution berkunjung ke ITB untuk mengisi ceramah. Malamnya sebelum
A.H. Nasution memberikan ceramah, mahasiswa ITB membacakan ikrar untuk
membangun sebuah masjid di ITB. Ide pembangunan masjid tersebut mendapat
dukungan dari bebagai pihak. Asal-usul nama Salman sendiri berasal dari
presiden RI sekaligus alumni ITB yakni Presiden Soekarno. Akhirnya pada Mei
1972, untuk pertama kalinya Masjid Salman ITB digunakan untuk melakukan
kegiatan sholat Jumat berjamaah.
Dalam proses pembangunannya,
lahir juga berbagai organisasi yang berkaitan erat dengan masjid Salman ITB.
Organisasi-organisasi tersebut tak hanya sebagai wadah kepengurusan, namun juga
wadah diskusi, wadah dakwah dan sebagainya. Kian tahun, terbukti bahwa Masjid
Salman telah banyak melahirkan alumni-alumni ITB yang sekarang menjadi
tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia seperti Aburizal Bakrie, Hatta Radjasa,
dan sebagainya.
2)
Masjid
At-Tin
Masjid
At-Tin adalah satu di antara dua masjid megah di kawasan TMII. Masjid lainnya
adalah Masjid Diponegoro. Masjid
yang mulai dibangun pada April 1997
ini menempati area tanah seluas 70.000 meter persegi dengan kapasitas sekitar
9.000 orang di dalam masjid dan 1.850 orang di selasar tertutup dan plaza.
Pembangunan Masjid At-Tin selesai pada tahun 1999 dan dibuka secara
umum pada tanggal 26 November 1999.
Nama At-Tin diambil dari salah
satu surah dalam Al-Quran yang merupakan wahyu ke-27 yang diterima oleh Nabi Muhammad
SAW, atau surah ke-95 dalam urutan penulisan Al-Qur‘an. Nama surah
itu adalah At-Tin
yang berarti sejenis buah yang sangat manis, lezat, dan penuh gizi. Buah
ini dipercayai mempunyai manfaat yang banyak, baik sebelum matang maupun
sesudahnya.
Selain
diinspirasi dari surah Al-Qur‘an, pemberian nama At-Tin sebenarnya juga
merupakan upaya untuk mengenang jasa-jasa istri mantan Presiden Soeharto
yang bernama Ibu Tien atau lengkapnya Hj. Fatimah Siti
Hartinah Soeharto. Memang, pendirian Masjid At-Tin sejak awal
merupakan usaha anak-cucu Presiden Soeharto untuk mengenang ibu/nenek mereka.
Ø
Visi dan Misi
1) Visi
Desain Masjid
tidaklah harus berkubah tapi lebih mementingkan
nilai agama, interior, dan
kenyaman yang diberikan untuk para jama’at
masjid.
2) Misi
Mendesain suatu
masjid dibantu dengan Kitab Suci Al- Qur’an agar
sesuai dengan kebutuhan
jama’at Masjid.
Ø
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar