Rabu, 18 Januari 2017


PROFILE ARSITEK
Ir. Acmad Noe’man ,IAI

 
                Ir. Achmad Noe’man, IAI mendedikasikan ilmu dan hidupnya untuk mendesain masjid di Indonesia dan mancanegara. Ialah yang mempelopori bangunan masjid tanpa kubah, salah satunya Masjid Salman, yang terletak di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain masjid Salman di ITB, karyanya juga sampai ke luar negeri, yaitu Masjid Indonesia di Sarajevo, Bosnia dan Masjid Lambung Mangkurat di Banjarmasin. Ia juga merupakan salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia.
                Lahir di Garut tahun 1924, anak dari seorang pendiri Muhammadiyah Garut ini juga turut andil dalam pembangunan sarana pendidikan seperti sekolah, asrama hingga masjid. Disinilah ia mulai tertarik pada bidang arsitektur. Ditarik lebih jauh, ketertarikan Noe’man juga dipengaruhi ayahnya dalam membangun infrastruktur pendidikan di lingkungan Muhammadiyah.
                Sempat mengenyam pendidikan di Hollandsch Inlandsche School  (HIS) Budi Priyayi Ciledug, Garut, beliau kemudian berlanjut ke jenjang Meer Uitgebreid Lager Onderweijs (MULO) yang sempat ditutup, sehingga mengharuskan beliau untuk pindah ke MULO Yogyakarta dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah, Yogyakarta.

Ø  Konsep- konsep Perancangan Desain Ir. Achmad Noeman, IAI :

                Konsep perancangan terinspirasi dari kitab suci yaitu Al-Quran surat Al-Baqarah ayat ke 170, yang intinya apabila Allah menurunkan sesuatu yang baru, manusia tidak langsung mengambilnya, tetapi manusia cenderung ikut ajaran nenek moyangnya. Kemudian, beliau juga menganut kepercayaan bahwa ketika beribadah shalat di masjid agar tidak terputus shaf atau barisannya. Acuan-acuan tersebut diinterpretasikan ke dalam desain yaitu konsep bangunan yang ekstrim tanpa kolom di tengah ruang. Selain itu, dengan desain yang modern tersebut muncul pula pemikiran untuk tidak membuat kubah pada masjid. Menurut beliau, tidak ada ketentuan yang disebutkan bahwa sebuah masjid harus mempunyai kubah.
1)      Masjid Salman ITB, Bandung

Berkapasitas sekitar 1.000 orang, Masjid Salman ITB tercatat sebagai masjid pertama di
Indonesia yang dibangun dengan arsitektur modern. Jika kebanyakan masjid dibangun dengan menggunakan beberapa tiang penyangga, maka di dalam masjid ini tidak ditemukan pilar-pilar besar. Berbeda dengan kebanyakan perspektif arsitektur masjid lainnya, di lokasi ini orang tidak akan menemukan adanya kubah. Di sini juga tidak didapati rangkaian kaligrafi . Seperti yang biasa menghiasi sebuah masjid.
Segar dan asri, itulah kesan yang tercipta saat itu. Masjid yang desain arsitekturnya ber atap datar ini yang -dahulu- terkenal akan keindahan arsitektur bangunannya masih berdiri kokoh, menjadi simbol arsitektur kontemporer yang khas dari kota Bandung ini     Bangunan masjid ini layak disebut sebagai satu tonggak arsitektur masjid paling penting bagi pembaruan bangunan masjid-masjid di Indonesia. Tonggak itu dapat dilihat pada upaya pembebasan diri dari tradisi dengan ditinggalkannya (hampir) secara total penggunaan idiom-idiom klasik seperti atap tumpang/tajuk pada masjid-tradisional atau kubah yang sering dianggap sebagai idiom universal dari masjid.

2)      Masjid At- Tin

         Masjid Agung At-Tin dirancang oleh pasangan arsitek anak dan Ayah yakni Fauzan Noe’man dan Ahmad Noe’man. Rancangan yang sangat unik dengan perpaduan berbagai seni bina bangunan masjid didunia dan Nusantara. Hasilnya adalah sebuah bangunan masjid megah modern yang begitu indah. Struktur utama bangunan Masjid Agung At-Tin berupa kubah tunggal berukuran raksasa di atap masjid lengkap dengan empat menara tinggi di empat penjurunya ditambah dengan satu menara tunggal yang lebih tinggi terpisah dari bangunan utama. Sentuhan ciri khas arsitektur Indonesia dicirikan dengan atap berbentuk limas atau joglo yang dimunculkan pada bentuk ornamen di seluruh dinding masjid. Bentuk yang sama juga terdapat pada bagian dalam masjid yang menjadi ornamen utama pada sisi kiblat masjid ini. Hanya saja warna ornamen ini dimodifikasi ke dalam warna yang lebih gelap menggunakan lempengan-lempengan keramik,mozaik, dan kaligrafi. Interior masjid juga dilengkapi dengan lampu gantung tunggal dalam ukuran besar yang menggantung di bawah kubah utama. Lampu gantung dirancang menjuntai berjejer di bawah kubah utama. Kubah dilengkapi dengan celah cahaya matahari, serangkaian lempengan logam yang menggantung dalam susunan yang rumit diletakan dibawah kubah utama sehingga menghasilkan bentuk yang unik.

Ø  Karya- karya Desain Arsitektur Ir. Achmad Noe’man, IAI :

1)      Masjid Salman ITB, Bandung

                Pada tahun 1960 sebelum Masjid Salman ITB dibangun, mahasiswa ITB melaksanakan kegiatan ibadah berjamaah seperti sholat Jumat di gedung Aula Barat ITB. Kemudian pada tahun 1964, Kasab Jendral A.H. Nasution berkunjung ke ITB untuk mengisi ceramah. Malamnya sebelum A.H. Nasution memberikan ceramah, mahasiswa ITB membacakan ikrar untuk membangun sebuah masjid di ITB. Ide pembangunan masjid tersebut mendapat dukungan dari bebagai pihak. Asal-usul nama Salman sendiri berasal dari presiden RI sekaligus alumni ITB yakni Presiden Soekarno. Akhirnya pada Mei 1972, untuk pertama kalinya Masjid Salman ITB digunakan untuk melakukan kegiatan sholat Jumat berjamaah.
                Dalam proses pembangunannya, lahir juga berbagai organisasi yang berkaitan erat dengan masjid Salman ITB. Organisasi-organisasi tersebut tak hanya sebagai wadah kepengurusan, namun juga wadah diskusi, wadah dakwah dan sebagainya. Kian tahun, terbukti bahwa Masjid Salman telah banyak melahirkan alumni-alumni ITB yang sekarang menjadi tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia seperti Aburizal Bakrie, Hatta Radjasa, dan sebagainya.
2)      Masjid At-Tin

                Masjid At-Tin adalah satu di antara dua masjid megah di kawasan TMII. Masjid lainnya adalah Masjid Diponegoro. Masjid yang mulai dibangun pada April 1997 ini menempati area tanah seluas 70.000 meter persegi dengan kapasitas sekitar 9.000 orang di dalam masjid dan 1.850 orang di selasar tertutup dan plaza. Pembangunan Masjid At-Tin selesai pada tahun 1999 dan dibuka secara umum pada tanggal 26 November 1999.
 Nama At-Tin diambil dari salah satu surah dalam Al-Quran yang merupakan wahyu ke-27 yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, atau surah ke-95 dalam urutan penulisan Al-Qur‘an. Nama surah itu adalah At-Tin
yang berarti sejenis buah yang sangat manis, lezat, dan penuh gizi. Buah ini dipercayai mempunyai manfaat yang banyak, baik sebelum matang maupun sesudahnya.
                 Selain diinspirasi dari surah Al-Qur‘an, pemberian nama At-Tin sebenarnya juga merupakan upaya untuk mengenang jasa-jasa istri mantan Presiden Soeharto yang bernama Ibu Tien atau lengkapnya Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto. Memang, pendirian Masjid At-Tin sejak awal merupakan usaha anak-cucu Presiden Soeharto untuk mengenang ibu/nenek mereka.

Ø  Visi dan Misi
1)  Visi  
                Desain Masjid tidaklah harus berkubah tapi lebih mementingkan      
      nilai agama, interior, dan kenyaman yang diberikan untuk para jama’at
      masjid.

2) Misi  
                Mendesain suatu masjid dibantu dengan Kitab Suci Al- Qur’an agar
      sesuai dengan kebutuhan jama’at Masjid.

Ø  Sumber :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar