Kritik Arsitektur
Judul
Artikel : Renovasi Masjid Agung Tegal Dikritik Sejarawan
Tanggal Publikasi : Kamis, 9 April 2015 05:31 Wib
Ringkasan
Artikel :
Dari Gambar Desain Yang
Dipampang Di Pagar Depan Masjid Agung, Rehabilitasi Akan Mengubah Drastis
Penampilan Luar Salah Satu Ikon Kota Tegal Itu.
Menurut Wijanarto, Masjid Agung Dan
Alun-Alun Termasuk Landmark Kota Tegal Selain Pendopo Ki Gede Sebayu Di
Kompleks Balai Kota Tegal. Meski Undang Undang Cagar Budaya Memperkenankan
Proses Konservasi Terhadap Bangunan Bersejarah, Wijanarto Berujar, Rehabilitasi
Masjid Agung Musti Mengusung Semangat Untuk Mengembalikan Khazanahnya Sebagai
Ikon Dan Landmark Kota Tegal.
"Jangan Sampai Bangunannya Menjadi Bagus Tapi
Cacat Historis. Zona Inti Masjid Musti Dipertahankan Agar Kota Tegal Tidak
Amnesia Sejarah," Ujar Wijanarto. Wijanarto Berharap Rehabilitasi Itu Juga Melibatkan
Arsitek Yang Memahami Lanskap Sejarah Budaya Masjid Agung Agar Nilai
Historisnya Tetap Terjaga.
Rumusan Masalah :
Hilangnya nilai
spirit histori pada masjid agung tegal, karena rencana desain renovasi masjid
yang lebih modern tergerus oleh masa. Maka perlunya edukasi mengenai sejarah
pada objek tersebut melalui subjek pengamat atau ahli sejarahwan kota tegal,
untuk merancang kembali citra pada landmark kota tegal(masjid agung kota
tegal). Dengan maksud tetap mempertahankan desain asli pada bangunan walaupun
dengan material yang tidak serupa.
Tanggapan Pengkritik Dan Pendapat
Mengenai Masalah Yang Dibahas :
Menurut saya, Dalam proses perancangan banyak memiliki
detail-detail yang seharusnya perlu diperhatikkan, apalagi objek perancangan
merupakkan landmark pada suatu wilayah yang memiliki citra yang dirancang sedemikian
apik. Dengan memiliki filosofi yang saling berhubungan antara objek, wilayah
objek, maupun lingkungan sosial objek.
Maka dari itu pada kasus ini perlunya
ketelitian mengenai perancang pada arsitektur pertama/ awal mengenai konsep
citra yang beliau bangun. Mempelajari mulai dari filosofi konsep, detail objek,
dan wilayah, untuk mengenali, mempertahankan, dan merancang dari subjek
pengamat/ ahli sejarahwan yang mempelajari atau mengenali detail- detail konsep
objek.
Baru setelah melawati tahap tersebut dapat mendesain sesuai dengan citra
yang selama ini terbangun. Lalu merenovasi tanpa menghilangkan nilai filosofi
objeknya dengan mempertahankan fungsi utama, lalu melihat kedepan fasilitas
pendukung apa saja yang dibutuhkan dalam berjalanan infrastruktur pada wilayah
tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar